Rabu, 30 Desember 2009

Juventus 2007 - 2008 KEMBALI KE PAPAN ATAS

Kedatangan Ranieri

Musim panas 2007: Claudio Ranieri terpilih sebagai manajer baru Juve yang beru saja kembali ke Serie A dan bertugas membawa kembali klub ke kasta teratas liga secepatnya. Sementera dalam hal skuad terdapat banyak nama baru. Di pertahanan ada nama Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, sementara Tiago, Almiron, Nocerino, Salihamidzic mengisi lini tengah dan penyerang haus gol, Vicenzo Iaquinta. Juve memulai musim dengan menghancurkan Livorno 5-1 dan menunjukkan kepada lawan determinasi dan ketajaman lini depan mereka. Sepekan setelahnya, determinasi kembali ditunjukkan Juve saat menaklukan Cagliari 3-2. Namun setelahnya, mereka terpeleset setelah kalah di kandang sendiri dari Udinese melalui gol tunggal Di Natale. Akan tetapi, kekalahan tersebut tidak menggoyahkan mental Juve dan di pekan selanjutnya mereka sukses menahan favorit juara AS Roma 2-2 dan membantai Reggina 4-0. setelahnya lebih manis, mereka memenangi derby pertama musim itu melalui gol tunggal Trezeguet.


Menahan sang pimpinan klasemen

Laju kemenangan Juve terhenti pada 27 Oktober, yaitu saat kalah dari Napoli. Namun kekalahan tersebut dinilai lebih berbau kontroversial karena keputusan wasit yang tidak memberi penalti. Sesudahnya, Del Piero dkk. dengan cepat bangkit dan membungkam Empoli 3-0 dan, dengan permainan yang brillian, menahan laju kemenangan beruntun sang juara bertahan Inter Milan 1-1.


2008, start lambat Juve

Pada awal 2008, Juve mulai kehilangan poin penting saat melawan Catania, Sampdoria dan Cagliari. Namun akhirnya kembali meraih kemenangan atas Udinese dan AS Roma. Di transfer paruh musim, Juve merekrut Sissoko dari Liverpool untuk menambah daya gebrak lini tengah mereka. Masuknya pemain ini membuat Juve berhasil mempersempit jarak hanya menjadi satu poin dengan posisi kedua, AS Roma. Namun, di Reggio Calabria, sebuah keputusan controversial wasit lagi-lagi membuat mereka takluk dari Reggina 1-2. Hasil ini membuat mental tim jatuh dan hasil imbang di derby dan takluk dari Fiorentina di kandang sendiri membuat posisi mereka untuk ke Liga Champions musim depan terancam. Akan tetapi, memasuki bulan Maret, situasi berubah positif. Diawali kemenangan atas Genoa, lalu Napoli, dan bahkan mereka berhasil mengalahkan pimpinan klasemen Inter Milan 2-1 dengan penampilan yang luar biasa.

Di akhir musim, Juve meraih hasil beragam. Kalah dari Palermo (diantaranya ditentukan oleh peforma bagus dari pemain masa depan Juve, Amauri), lalu menang atas AC Milan yang saat itu baru saja menjuarai Piala Dunia Antar Klub. Setelahnya, tiga kemenangan atas Parma, Atalanta dan Lazio mengamankan tempat ketiga buat mereka. Sementara kapten Juve, Del Piero ditahbiskan menjadi top skorer dengan 21 gol, satu gol lebih banyak dari tandemnya, David Trezeguet.

Juventus 2006 - 2007 KEMBALI KE JALUR JUARA

Kedatangan Didier Deschamps

10 Juli 2006: Juventus yang harus bermain di Serie B akibat skandal Calciopolli mendapat seorang manajer baru sekaligus mantan pemain mereka, Didier Deschamps. Beberapa pemain banyak yang hengkang namun tak sedikit yan bertahan seperti: Buffon, Del Piero, Trezeguet, Nedved dan Camoranesi. Pelatih Prancis ini juga mempunyai stok pemain muda yang mumpuni dalam diri Paro, Marchisio, Palladino dan Giovinco.

Juventus memulai petualangan pertama mereka di Serie B dengan hasil yang kurang mulus. Hal itu disebabkan lantaran mereka buta akan kekuatan lawan, pun dengan pengurangan 17 poin di awal kompetisi. Baru pada pekan ketiga semua hal itu berubah dimana mereka berturut-turut mengalahkan Crotone, Modena, Piacenza, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia. Hasil ini membuat mereka beranjak ke posisi teratas dan semakin mendekati zona promosi ke Serie A.

Akan tetapi, sebuah tragedi naas terjadi saat mereka tengah meretas jalan kembali ke Serie A. Pada 15 Desember 2006, tepat sebelum pertandingan antara Juve melawan Cesena, 2 pemain muda mereka yaitu gelandang Alessio Ferramosca dan kiper Riccardo Neri mengalami kecelakaan saat tenggelam di danau buatan tempat latihan klub, dan membuat mereka meninggal seketika. Dengan kesedihan mendalam atas kejadian ini, Juve kembali ke lapangan dan berhasil meraih kemenangan atas Bologna yang didedikasikan kepada kedua pemuda tersebut.

Di bagian akhir musim, Juve mulai nyaman memimpin klasemen. Selain itu, dua rival terberat mereka Napoli dan Genoa mereka taklukkan masing-masing 2-0 dan 3-1. Dan, pada 19 Mei 2007, kemenangan besar atas Arezzo membuat mereka secara matematis promosi ke Serie A dan diikuti dengan kemenangan kandang atas Mantova yang membuat mereka memastikan menjadi juara Serie B. Di lain pihak, Deschamps memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan Juventus. Giancarlo Corradini dipilih menangani tim sampai akhir musim dan pada 4 Juni, Juventus mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan manajer baru: Claudio Ranieri.

Juventus 2004 - 2006 DUA GELAR TAMBAHAN

Emerson, Cannavaro dan Ibrahimovic

Musim panas 2004, Lippi pergi dan digantikan oleh Fabio Capello. Juve banyak merekrut pemain baru mulai dari Emerson (Roma), Cannavaro (Inter), Blasi (Parma) dan pemain Prancis Zebina (Roma) serta yang terpenting ialah bomber Swedia Ibrahimovic (Ajax). Juve memulai kompetisi dengan baik; Brescia ditaklukkan, Atalanta dan Sampdoria tidak berkutik dan satu hasil seri sebelum rentetan kemenangan. Di akhir November, Juve kehilangan 3 poin saat Inter berhasil mengejar ketertinggalan 0-2 menjadi 2-2 dan juga saat ditahan tim sekota Inter, AC Milan pada 18 Desember. Namun terlepas dari hasil ini, laju Juventus tak terhentikan. Kemenangan tandang atas AS Roma mendekatkan mereka ke gelar juara. Tapi Juve tersendat setelah kalah dari Inter di kandang dan pertandingan lawan AC Milan pada 8 Mei menjadi penentu gelar juara. Juventus menang melalui gol Trezeguet sekaligus merebut scudetto dengan unggul 7 poin atas posisi kedua, AC Milan dan 14 poin atas posisi ketiga, Inter Milan.


9 kemenangan beruntun

Setelah menambah amunisi dengan mendatangkan Mutu dan Chiellini serta Vieira, Juve memulai musim 2005-2006 dengan performa lebih baik. Mereka berhasil membukukan 9 kemenangan beruntun sebelum berakhir di tangan AC Milan. Segera setelahnya, para pemain Juve menunjukkan performa apik di awal musim dengan menundukkan Roma 4-1 dan Fiorentina 2-1 sekaligus meninggalkan para pesaing terdekatnya. Pada Februari 2006, Juventus yang saat itu berada di posisi pertama memenangi pertandingan super penting lawan Inter. Mereka hanya butuh hasil imbang lawan AC Milan di pertandingan berikutnya untuk memastikan gelar juara.

Sementara itu di Liga Champions, mereka harus takluk di perempatfinal dari tangan Arsenal (finalis saat itu) 0-2 dan 0-0. Di sisi lain, pada sisa akhir musim, Juventus dinyatakan terlibat dalam sebuah investigasi yang melibatkan petinggi mereka, Luciano Moggi dan Antonio Giraudo. Hal ini terbukti dari terungkapnya beberapa percakapan telepon oleh kedua orang tersebut kepada petinggi Federasi Sepakbola Italia. Skandal ini terungkap media dan segera public mengenalnya dengan nama skandal Calciopolli. Sementara itu, Moggi mengundurkan diri dari klub sehari setelah liga berakhir diikuti dengan Giraudo beberapa hari kemudian. Hal ini membuat perubahan besar-besaran di jajaran manajemen klub. Giovanni Cobolli Gigli terpilih sebagai presiden klub, dan Jean-Claude Blanc menjabat rangkap sebagai Direktur Pelaksana dan Direktur Umum. Skandal Calciopolli terus terkuak dan Juventus didakwa turun kasta ke “divisi lebih rendah dari Serie B”. Juve juga kehilangan gelar scudetto musim 2004-2005 dan 2005-2006. Dan, setelah melalui beberapa proses investigasi, Juve akhirnya terdegradasi ke Serie B dengan pengurangan 30 poin di awal musim, yang mana dikurangi menjadi 17 dan, setelah mendapat rekomendasi Komite Olimpiade Nasional, berkurang menjadi “hanya 9 poin” untuk musim 2006-2007.

Juventus 2002 - 2003 MEMASUKI MILLENIUM BARU

2002, Juve salip Inter Milan di detik-detik terakhir untuk meraih scudetto

Musim panas 2001: Juve merombak tim dengan Marcello Lippi kembali menangani tim. Buffon, Thuram, Nedved dan Salas merupakan pembelian terpenting saat itu. Namun, mereka harus kehilangan sang maestro, Zidane yang pindah ke Real Madrid.

Juventus memulai musim dengan 3 kemenangan namun terpeleset saat lawan Roma dan ditahan Torino 3-3. Setelah mengalami naik turun dan pada akhirnya tibalah saat penentuan. Di akhir musim, dua kemenangan atas Piacenza dan Brescia membuat jarak mereka dengan pimpinan klasemen Inter hanya tinggal 1 poin. Di pekan terakhir, Inter bertandang ke Lazio sedangkan Juve bertamu ke Udinese dan Roma, yang secara matematis masih bisa juara ditantang Torino di Delle Alpi. Hasilnya sungguh di luar dugaan: Juve tancap gas dan menutup pertandingan di lima belas menit awal, sedangkan Inter berjuang mengejar ketertinggalan atas Lazio namun hasil akhir tak berubah. Inter takluk dari Lazio dan Juve menjadi juara di detik-detik terakhir sekaligus menorehkan sejarah di scudetto ke-26 mereka.


2003, Nedved sang pemimpin

September 2002, juara bertahan Juventus memulai musim dengan beberapa perubahan. Mereka membeli Di Vaio di saat akhir penutupan transfer. Inter dan AC Milan memulai lebih baik namun pada bulan November mereka berhasil disalip. Juventus babat AC Milan 2-1 dan hancurkan Torino 4-0. Di penghujung musim, Juve menang atas Parma sedang Inter takluk dari Chievo dan Milan ditahan Lazio. Juve semakin dekat ke gelar juara saat mereka menang 3-1 atas Como dan 3-0 atas Inter arahan Cuper. Akhirnya, gelar juara itu diraih juga pada 10 Mei setelah hasil seri 2-2 dengan Perugia, 2 pekan sebelum musim berakhir, cukup membuat mereka merengkuh scudetto ke-27 mereka. Sementara itu, Juve hampir saja mencetak sejarah double winner saat berhasil menaklukkan Real Madrid untuk melaju ke final Liga Champions melawan AC Milan dalam All Italian Final. Sayangnya, tim asuhan Lippi tersebut kalah beruntung melalui adu penalty di final yang dilangsungkan di Old Trafford, Manchester itu.


Presiden Chiusano Wafat

Pada 15 Juli 2003, Juve membeli hak dari Stadion Delle Alpi untuk 99 tahun mendatang dari Dewan Kota Turin sehingga mereka berhak membangun stadion pribadi. Pada bulan Agustus, mereka berangkat ke USA untuk memainkan partai Piala Super Italia lawan AC Milan. Skor 0-0 setelah 90 menit, 1-1 setelah perpanjangan waktu, namun kali ini Juve memenangi duel adu penalty. Akan tetapi, kegembiraan klub tidak berlangsung lama. Sebuah kabar mengejutkan datang: Presiden klub Vittorio Caissotti di Chiusano meninggal dunia. Ia lalu digantikan oleh Franzo Grande Stevens, Wakil presiden dari FIAT. Setelah merengkuh Piala Italia, musim liga dimulai dengan buruk. Setelah bermain baik di paruh pertama musim, mereka tertinggal di belakang AC Milan dan AS Roma. Juventus juga kehilangan konsentrasi di Liga Champions, yakni tersingkir dari tim asal Spanyol Deportivo La Coruna dan juga gagal di final Piala Italia setelah kalah lawan Lazio. Di sisi lain, setelah kehilangan Chiusano, Juve juga kehilangan seorang figur penting klub: mantan presiden Umberto Agnelli meninggal pada 27 Mei 2004 akibat kanker paru-paru.

Juventus 1999 - 2001 MASA KEPEMIMPINAN ANCELOTTI

Dari Lippi ke Ancelotti

Musim1998-1999: Juventus tidak banyak berubah namun para rival mereka, Inter dan AC Milan serta Lazio memperkuat skuadnya. Setelah memenangi dua pertandingan pertama, mereka kalah dari Parma namun berhasil bangkit dengan menglahkan Inter untuk kembalim memimpin klasemen. Pada 8 November saat bersua Udinese, Juve yang unggul 2-0 harus rela kehilangan 3 poin di menit-meint akhir. Situasi bertambah parah karena kapten tim, Del Piero cedera parah dan harus absen di sepanjang musim. Hasilnya bisa ditabak, permainan tim anjlok dan Juve hanya bisa berkutat di papan tengah walau saat itu sempat membeli Juan Esnaider dan Thierry Henry yang masih belia. Dan, hanya 2 kemenangan atas Lazio dan Fiorentina yang membuat posisi mereka aman di papan tengah. Di sisi lain, Juve harus rela bermain di Piala InterToto akibat kalah di play-oof lawan Udinese. Di akhir musim yang buruk ini, Lippi mengundurkan diri dan diganti Carlo Ancelotti yang sebelumnya sukses bersama Parma.

Selanjutnya di musim panas 1999, Juve memulai petualangan di bawah arahan Ancelotti di Piala InterToto. Beberapa nama baru direkrut: kiper asal Belanda, Van Der Sar, sayap belia Zambrotta, pemain Nigeria Oliseh dan bomber Serbia Darko Kovacevic. Seterusnya, setelah start di awal musim yang baik, Juve berhasil meneruskan performanya dengan mengandaskan Roma dan Inter Milan dan berhasil memimpin klasemen. Di lain pihak, Lazio menjadi rival terberat saat itu. Saat keduanya bertemu di Delle Alpi, pada 1 April 2000, mereka kalah dan terus kehilangan poin setelahnya. Akibatnya, posisi puncak diambil alih Lazio. Di pekan terakhir, Juve bertandang ke Perugia. Di pertandingan yang diwarnai hujan lebat, Juve harus menyerah dan membiarkan Lazio menyalip mereka ke tangga scudetto.

Musim berikutnya tidak jauh berbeda. Dengan Ancelotti masih memberi arahan dari bangku cadangan, Juve membeli penyerang asal Prancis David Trezeguet dari Monaco. Kompetisi saat itu didominasi oleh tim asal Roma lainnya, AS Roma. Juventus bermain inkonsisten dan meraih terlalu banyak hasil imbang. Akibatnya, Juve tidak berhasil mengejar Roma. Di saat keduanya berjumpa pada 6 Mei, Juve yang telah unggul 2-0 berhasil dikejar dan hasil akhir menjadi imbang 2-2. Sesudahnya, walau berhasil memenangi 5 pertandingan terakhir, Juventus tetap tidak bisa mengejar dan Roma menjadi juara dengan 75 poin, unggul 2 poin atas mereka. Sementara bomber anyar Juve, Trezeguet menjadi satu-satunya hal positif dengan berhasil mencetak 14 gol di sisa 6 pertandingan terakhir.

Juventus 1995 - 1998 KEMENANGAN LIPPI

1995, Debut Lippi

Musim panas 1994, Marcelo Lippi ditunjuk sebagai manajer baru Juventus. Ferrara, Paulo Sousa dan Deschamps merupakan wajah baru tim sedangkan Del Piero dipromosikan dari tim junior. Musim dimulai dengan cukup baik, dimulai dengan hasil imbang dan 2 kemenangan atas Bari dan Napoli. Lalu kemenangan dalam pertandingan yang cukup alot melawan Sampdoria lewat gol tunggal Di Livio. Juve mengakhiri paruh pertama musim dengan memimpin klasemen. Di paruh kedua, keadaan menjadi lebih baik bagi tim, dengan kemenangan tandang atas Sampdoria dan AC Milan, Juve terlihat akan memenangi liga dengan mudah. Namun, hal itu menjadi berantakan akibat tiga kekalahan beruntun yang membuat Parma berhasil menguntit ketat. Walau begitu, Juve berhasil lolos dari kejaran Parma saat keduanya bertemu di Delle Alpi dan Juventus meraih kemenangan mutlak 4-0 sekaligus memastikan gelar juara. Parma terbukti menjadi lawan tangguh saat itu dimana keduanya kembali bertemu di final Piala UEFA. Saat itu giliran Juventus yang harus menyerah. Juventus membalas di Piala Italia saat Vialli dkk. mengalahkan Parma di pertemuan mereka yang ke-2 di final.

Musim berikutnya, Juventus harus kehilangan Kohler yang kembali ke Jerman dan menggantikannya dengan bek berumur namun penuh pengalaman, Vierchowood. Kali ini mereka berkonsentrasi di kompetis domestik dan Eropa. Hal ini membuat perjalanan mereka di liga agak tersendat. Dan, setelah imbang 1-1 dengan AC Milan, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi penuh di Liga Champions. Setelah menyingkirkan Madrid di perempatfinal dan Nantes di semifinal, mereka berjumpa Ajax pada 22 Mei 1996. Di pertandingan tersebut, kedua tim yang bermain imbang 1-1 selama 120 menit, hasil akhir harus ditentukan dengan duel adu penalty. Juventus menang 4-2 dan berhasil mengangkat trofi Liga Champions yang mereka idamkan. Setelahnya, mereka berhasil menambah trofi setelah merebut Piala Super Italia di bulan Januari, saat mengandaskan Parma 1-0 di Delle Alpi.


1997, Dari Boksic ke Vieri

Musim panas 1996 membawa beberapa perubahan bagi Juventus. Vialli dan Ravanelli pergi, dan Boksic, Vieri dan Amoruso menggantikan posisi mereka. 2 pembelian penting ada di posisi bek dan gelandang serang melalui Montero dan Zidane. Di musim ini, Juve berhasil meraih Piala Interkontinental di Tokyo, setelah gol tunggal Del Piero berhasil menyudahi perlawanan wakil Argentina, River Plate. Trofi bertambah setelah Juve meraih Piala Super Eropa saat membungkam wakil Prancis, Paris St. Germain. Kembali ke liga, dengan diwarnai kemengana sensasional 6-1 atas AC Milan, mereka kembali meraih scudetto setelah hasil imbang lawan Parma di Delle Alpi. Sayangnya, hasil ini tidak diikuti di Liga Champions dimana mereka kalah di final yang berlangsung di Munich oleh wakil Jerman Borussia Dortmund yang diperkuat mantan pemain mereka, Moeller dan Paulo Sousa.


1998, Del Piero dan Inzaghi: lumbung gol Juve

Pippo Inzaghi dan Edgar Davids merupakan pemain anyar Juventus di musim ’97-’98. Rival terberat mereka saat itu ialah Inter Milan yang diperkuat pemain terbaik dunia, Ronaldo. Hasil penentu terjadi saat lima kemenangan beruntun, dan hasil positif lawan AC Milan (4-1) dan gol semata wayang Del Piero dari titik putih saat lawan Inter membuat mereka secara matematis memenangi scudetto dua pekan sebelum musim berakhir. Sementara kejadian musim lalu terulang di Liga Champions saat mereka takluk dengan skor tipis 0-1 dari Real Madrid.

Juventus 1991 - 1994 AWAL TAHUN 90-AN

Maifredi yang meragukan

Piala Dunia yang berlangsung di Italia memunculkan nama bintang Juventus, Toto Schillaci sebagai pahlawan. Juve sendiri memulai musim kompetisi dengan menderita kekalahan telak dari Napoli 5-1 pada ajang Piala Super Italia. Pada musim ini, terjadi beberapa perubahan dimana Luca Cordero di Montezemolo ditunjuk sebagai wakil presiden. Juve mempunyai manajer baru bernama Gigi Maifredi dan skuad kedatangan pemain seperti Roberto Baggio, Thomas Haessler asal Jerman, bek Brazil Julio Cesar, Di Canio, Luppi dan De Marchi serta pemain muda potensial Corini dan Orlando.

Di musim ini, AC Milan menjadi klub yang menghentikan ambisi Juve menjadi juara. Di sisa akhir musim, mereka kalah dari Sampdoria di Marassi dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka gagal lolos ke Eropa setelah hanya mampu bertengger di posisi ketujuh klasemen. Sementara di Piala Winner, Juventus terhenti di semifinal dari tangan Barcelona.


Kembalinya Trapattoni dan direkrutnya Kohler

Musim panas 1991 menjadi saksi kembalinya Giampiero Boniperti sebagai presiden Juventus. Sementara Trapattoni kembali menjadi manajer dan membawa beberapa perubahan di tim dengan keluarnya Haessler dan Fortunato. Sementara Juve membeli pemain asal Jerman Juergen Kohler dan Steffan Reuter selain Carrera, Conte, dan kiper muda Peruzzi. Dengan lini pertahanan yang kembali solid, Trap berhasil membawa Juve memuncaki klasemen liga. Selanjutnya, mereka bermain konsisten dan berhasil menahan imbang AC Milan. Akan tetapi, petaka dating saat mereka kalah dari Sampdoria dan meraih rentetan dua hasil imbang. Hal ini membuat AC Milan menyalip mereka dan menjauh. Juve finis di posisi kedua klasemen. Hal yang sama terjadi di Piala Italia dimana setelah berhasil menyingkirkan AC Milan di semifinal, mereka kalah dari Parma di final.


Piala UEFA, Vialli dan Roberto Baggio

Juve memulai musim ’92-’93 dengan target sama di musim sebelumnya. Nama besar seperti Schillacci, Tacconi dan Julio Cesar keluar dari tim. Sementara, Gianluca Vialli datang dari Sampdoria bersamaan dengan Moeller, Platt, dan Ravanelli serta Dino Baggio. Peruzzi dipromosikan sebagai kiper utama dan pemain berpengalaman Rampulla sebagai kiper cadangan. Namun, Juve tetap kehilangan konsistensi seperti musim lalu. AC Milan berhasil merebut banyak poin dan Juve tidak mampu mengejar mereka. Juve akhirnya berkonsentrasi penuh di Piala UEFA. Hasilnya tidak pun mengecewakan. Mereka melaju sampai final setelah sebelumnya mengalahkan PSG yang diperkuat George Weah. Di final yang memainkan system Home and Away, mereka tidak menemui kesulitan melawan klub Jerman, Borussia Dortmund dan trofi ketiga Piala UEFA masuk ke lemari klub. Sementara di liga, Juve finis di posisi empat dibelakang Inter dan Parma serta AC Milan yang menjadi juara.

Musim 1993-94, Juve memulainya dengan baik dan berhasil menundukkan Sampdoria yang diprkuat Ruud Gullit serta memenangi derby dengan Torino 3-2. Juve makin mantap mengejar posisi puncak melalui gol-gol Roberto Baggio, Moeller dan Ravanelli. Namun, setelah permainan spektakuler di paruh partama liga, Juve ditaklukkan pemuncak klasemen AC Milan dan hasil ini membuat mereka gagal menyalip dan melepas gelar juara ke klub kota Milan tersebut. Akan tetapi, di bagian akhir musim, pemuda 19 tahun milik Juve bernama Alessandro Del Piero memainkan partai debut di tim utama dan mencetak gol perdananya saat melawan Genoa. Hasil manis didapat Juve di akhir-akhir kompetisi dengan mengalahkan Inter 1-0 dan Lazio 6-1 untuk memastikan posisi runner-up.